Selasa, 02 Juni 2015

Makalah Kesenian TARI REMO Situbondo



MAKALAH 
BUDAYA KESENIAN TARI REMO SITUBONDO








Disusun Oleh:
ENDRO WAHYU



FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ABDURACHAMAN SALEH
SITUBONDO
2015


Kata pengantar

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan  yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka kami bisa menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “Kesenian Batik Situbondo”, yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita semua.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bilamana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca. Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat kepada kita semua.
Semoga makalah ini bermanfaat.
 Amin




Daftar Isi

- BAB I PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang .............................
            B. Rumusan Masalah ........................
 C. Tujuan Masalah............................

- BAB II ISI
             A.  Pengertian .................................
             B.   Pembahasan Isi judul..................

- BAB III PENUTUP
             A. Kesimpulan.....................................
             B. Saran...............................................
   Daftar Pustaka..........................................



BAB 2.
 PEMBAHASAN

2.1.  Sejarah Tari Remo Trisnawati
Tari Remo Trisnawati merupakan tarian khas daerah Situbondo, yang biasa ditampilkan sebagai tarian pembuka. Tarian ini menceritakan tentang seorang wanita yang mandiri, mempunyai karakter yang tegas namun tetap lembut. Ragam geraknya yang indah, lincah dan dinamis merupakan perpaduan dari ragam gerak tari daerah Madura, Banyuwangi, dan Situbondo.
Pencipta Tari Remo Trisnawati adalah Trisnawati, yang lahir di banyuwangi 4 maret 1964. Trisnawati lahir dari keluarga seniman. Bu Prapti, ibu dari Trisnawati adalah pemain sandiwara keliling. Masa kecil Trisnawati yang dilalui ditengah-tengah komunitas kesenian itulah yang melahirkan obsesinya untuk menjadi seorang penari. Saat ini, Trisnawati tinggal di desa Panji di Situbondo. Selain sebagai penari remo dan gandrung, dia juga pesinden Banyuwangian, Maduranan juga pemain kendang. Meski terbukti Trisnawati tidak lulus SD, namun dia memiliki konsep yang bagus dan luar biasa dalam berkesenian, bahkan memiliki komitmen-komitmen yang baik dan disiplin.
Istilah Remo Trisnawati muncul pada tahun 1981, saat Trisnawati mengikuti lomba Tari Remo di Surabaya. Remo Trisnawati digunakan sebagai bahan kajian beberapa mahasiswa seni tari, sebagai materi pengajaran di beberapa sanggar tari, bahkan pernah ditampilkan di Istana Negara sampai luar negeri. Selama ini, Trisnawati sebagai pencipta tarian khas Situbondo, belum mendapatkan reward apapun dari Pemerintah Kabupaten Situbondo, hanya diberi janji-janji saja.



2.2.  Perkembangan Tari Remo Trisnawati
Keterkaitan antara pementasan ludruk dan tari remo adalah bahwa dari dulu tari remo memang bagian dari sebuah pementasan ludruk, yaitu sebagai pembuka.Berangkat sebagai tari pembuka (panjak) untuk pembukaan ludruk, tari tersebut biasanya berdurasi 15 menit (acara besar ) atau 10 menit (acara biasa). Pengiring tarian tergantung dari fee dari setiap acara, jika banyak menggunakan pengiring langsung atau live, sedangkan jika sedikit hanya menggunakan iringan dari kaset.
Tari Remo Trisnawati merupakan tarian khusus putri, yang ditarikan semuanya oleh perempuan. Syarat-syarat menjadi penari tari remo trisnawati adalah harus ada kemauan, tidak ada unsur paksaan, remaja, dan tentu saja perempuan.Jumlah penarinya bisa 1, 2, 4, 6, 8, tetapi lebih bagus jika ditarikan oleh banyak orang. Latihan minimal untuk menarikan tarian ini adalah 3 bulan. Event pementasan biasanya adalah pensi sekolah, hajatan orang-orang, dan acara-acara kabupaten, maupun provinsi. Tidak ada ritual khusus sebelum menarikan Tari Remo Trisnawati ini, hanya berdo’a saja. Perlengkapan yang terpenting yang disiapkan sebelum pementasan adalah pakaian (kemben, jarik, selendang, mahkota, dll.) dan juga pengiringnya.
Perbedaan Tari Remo Trisnawati dengan tari remo yang lain adalah sebagai berikut:
1.    Singgetan atau gerakannya berbeda, yaitu ada gerakan dangdutannya;
2.    Dari segi musik juga berbeda, tari remo trisnawati menggunakan musik etnis dari Situbondo, seperti patrolan, lalu ketukan kendangnya juga tidak sama; dan
3.    Adanya vokal, kalau remo lain tidak ada vokal, Tari Remo Trisnawati ini ada vokal di tengah-tengah tariannya (yang durasi 15 menit menggunakan vokal, untuk pementasan berdurasi 10 menit tidak menggunakan vokal).
Perkembangan Tari Remo Trisnawati di Situbondo sulit untukdikembangkan, karena:
1.    Dinas pendidikan kurang memadai (tidak mewajibkannya sebagai ekstrakurikuler wajib);
2.    Pemerintah daerah kurang memfasilitasi, dengan adanya seniman-seniman dan guru-guru seni di Situbondo, mereka kurang mendukung, jadi banyak orang Situbondo sendiri yang kurang mengetahui;
3.    Pemerintah daerah kurang tertarik untuk mengembangkan seni tradisi, seperti contohnya sumber dana untuk kegiatan sanggar-sanggar tari adalah  murni dari iuran murid yang ikut di sanggar, kecuali jika ada permintaan dari dinas untuk mewakili kabupaten, baru ada pembiayaan dari pemerintah; dan
4.    Anak muda terutama para siswa belajar tari mulai dari tari kreasi, bukan tari tradisi, sehingga sulit untuk belajar gerakan-gerakannyanya, karena banyak sekali gerakan-gerakan pakem yang tidak bisa dirubah. Selain itu, waktu latihan yang lama membuat para siswa jenuh, karena mereka ingin latihan sebentar, lalu cepat-cepat dipentaskan.
Menjadi ironi ketika Tari Remo Trisnawati lebih terkenal di Perguruan Tinggidi wilayah lain, seperti Malang dan Surabaya. Di Malang dan Surabaya tari ini lebih dikenal karena menjadi mata kuliah wajib bagi jurusan tari di Unesa (Sendratasik), STKW, UM. Jadi ketika para mahasiswa akan ujian, mereka melakukan survey dan konsultasi langsung ke Situbondo, yaitu langsung ke penemunya, Trisnawati. Selain itu, Trisnawati juga sering dimintai pertolongan untuk mengajar Tari Remo Trisnawati di ketiga perguruan tinggi tersebut.

2.3.  Pelestarian Tari Remo Trisnawati
Untuk pelestariannya, Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo bekerja sama dengan para seniman di Situbondo di tahun 2013 ini akan mengadakan pelatihan Tari Remo Trisnawati untuk seluruh guru di berbagai jenjang sekolah di Situbondo. Dilanjutkan dengan akan diadakannya lomba tari remo trisnawati antar sekolah se-kabupaten Situbondo.
Akhir-akhir ini tanggapan dari wali murid sendiri untuk adanya ekstrakulikuler tari ini sangat mendukung, sedangkan muridnya sangat antusias sekali, karena sering menanyakan event-event pementasan, seperti ingin terus tampil menari.
Untuk paguyuban seniman di Situbondo, Pemerintah Kabupaten mengumpulkan mereka dalam satu wadah, yaitu DKS (Dewan Kesenian Situbondo) yang menaungi seniman-seniman  tari, musik, rupa, batik, dll. 


BAB 3.
PENUTUP
 3.1.  Kesimpulan
Istilah Remo Trisnawati muncul pada tahun 1981, saat Trisnawati mengikuti lomba Tari Remo di Surabaya. Perkembangan Tari Remo Trisnawati di Situbondo sulit untuk dikembangkan, diantaranya karena Pemerintah daerah kurang memfasilitasi, Pemerintah daerah kurang tertarik untuk mengembangkan seni tradisi, dan Anak muda terutama para siswa belajar tari mulai dari tari kreasi, bukan tari tradisi, sehingga sulit untuk belajar gerakan-gerakannyanya, karena banyak sekali gerakan-gerakan pakem yang tidak bisa dirubah.
Tari Remo Trisnawati lebih terkenal di Perguruan Tinggi di wilayah lain,seperti Malang dan Surabaya. Di Malang dan Surabaya tari ini lebih dikenal karena menjadi mata kuliah wajib bagi jurusan tari di Unesa (Sendratasik), STKW, UM. Jadi ketika para mahasiswa akan ujian, mereka melakukan survey dan konsultasilangsung ke Situbondo, yaitu langsung ke penemunya, Trisnawati.
Untuk pelestariannya, Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo bekerja sama dengan para seniman di Situbondo di tahun 2013 ini akan mengadakan pelatihan Tari Remo Trisnawati untuk seluruh guru di berbagai jenjang sekolah di Situbondo. Dilanjutkan dengan akan diadakannya lomba tari remo trisnawati antar sekolah se-kabupaten Situbondo.

3.2.  Saran

Untuk penelitian mengenai Tari Remo Trisnawati selanjutnya, diharapkan untuk langsung bertemu langsung dengan penciptanya, supaya memperoleh informasi yang memadai dan lebih konkret. Untuk Pemerintah Kabupaten Situbondo, supaya lebih memperhatikan kesenian lokal di daerahnya, supaya generasi mendatang masih bisa melihat seni-seni tradisi wilayahnya.



DAFTAR PUSTAKA

line]. http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Situbondo. [22 April 2013].
line]. http://www.situbondokab.go.id. [22 April 2013].

0 komentar:

Posting Komentar