SITUBONDO (KOTA SANTRI)

( SEHAT, AMAN,NYAMAN,TERTIB,RAPI, INDAH )

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Novel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2015

Novel Cinta- Berawal dari benci

“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Nadia harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Nadia jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” gerutu Nadia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Nadia merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemooh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Nadia berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemoohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Nadia benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Nadia nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Nadia mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Nadia terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring
“Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemoohan atau pun ejekan.

“Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Nadia yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Nadia mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.
“Aduuuuhh” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Nadia sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Nadia pakai kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi berambut ikal tersebut.
***
“Nadia….”
Nadia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Nesya teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Nadia membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Nadia memang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Nesya malah menjitak kepalanya dari belakang.
“Woe non, nggak denger teriakan gue ya? Temen macam apa yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas sahabatnya tersebut kalo lagi ngambek.
“Sori deh Sya. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas loe tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok sampai tuh cowok permisi pulang, enggak minta maaf lagi.” jelas Nesya panjang lebar.
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Nadia benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.
“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Reno lho.”
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Nadia membela diri.
Sejenak Nesya terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis.


“Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP dulu banget. ” ujar Nesya polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalau Reno nggak suka sama gue.”
“Tau ah gelap!”
***
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Nadia sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Nesya masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalau nulis jangan kayak siput” Dengan gemas Nadia mencubit pipi Nesya. “Duluan ya, Sya. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Nesya hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.
Saat Nadia membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar.
“Eh, sori..” ucap Nadia kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Nadia langsung ngasih tampang jutek kepada orang itu

“Ngapain loe kesini?! Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemarin pulang cepet? Hah?! Jadi cowok kok banci baget!!!” Kesal Nadia.
Jujur Reno udah bosen kayak gini terus sama Nadia. Dia pengen hubungannya dengan Nadia bisa kembali seperti dulu.
“Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Nesya.” ucap Reno dingin sambil celingak celinguk mencari Nesya. “Hey Sya!” ucap Reno riang begitu orang yang dicarinya nongol.
“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Nesya sejenak melirik Nadia. Lalu dilihatnya Reno mengangguk bertanda mengiyakan. “Nad, kita duluan ya,” ujar Nesya singkat.

Nadia hanya bengong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Nesya dan Reno yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Reno selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Reno tidak menggodanya dengan cemoohan atau ejekan khasnya. Reno juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.

***
Byuuurr.. Sirup rasa stowberry menggalir deras dari rambut Nadia hingga menetes ke kemeja putihnya. Nadia nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.
“Maksud loe apa?” bentak Nadia menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.
“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Nadia. “Riz, mana sirupnya yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Nadia. Rizka langsung memberi satu gelas sirup yang sudah siap untuk disiram ke Nadia.
“Loe mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan sirup rasa stroberry? Teriak Nadia dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal primadona sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Nadia diem aja. Ia juga tau kalau Linda satu kelas dengan Reno. Wait, wait.. Reno??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Ren, sampe gue tau loe biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!
“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama loe.” teriak Nadia sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Nadia benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu di kasih pelajaran.

Kedua teman Linda, Rizka dan Ayu dengan sigap mencoba menahan Nadia. Tapi Nadia malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Ayu si cewek sawo mateng.
Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Nadia dengan sirup.
“Jauhin Reno. Gue tau loe berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Reno. Tapi kenapa loe sekarang nggak mau ngelepas Reno?!!”
“Maksud loe?” ledek Nadia sinis.
“Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Reno. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”
Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Nadia.
“Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Nadia. Kesabaran Nadia akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokan Nadia mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Nadia kalah. Tak perlu lama, Nadia sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.
“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Nadia juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Nadia sudah tau. Tapi ia nggak tau benar apa salah.

“Pergi loe semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Nadia melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Nadia dan membantunya untuk berdiri.
“Loe nggak apa-apa kan, Nad?” sesal Reno.
“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***
Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Nadia dan Reno berada di ruang UKS. Nadia membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Reno memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Nadia. Nadia lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Nadia nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.
“Ntar loe pulang gimana?” tanya Reno polos.
“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Nadia jutek. Rasanya Nadia makin benci sama yang namanya Reno. Gara-gara Reno dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Reno enggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.
“Tadi itu cewek loe ya?” ucap Nadia dengan wajah jengkel.
“Nggak.” ucap Reno datar.


“Terus kok dia malah ngelabrak gue? Nyuruh jauhin loe segala. Emang dia siapa?” gerutu Nadia kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue enggak mau jauh-jauh sama Reno. Aduuuhh…
Reno sejenak tersenyum.
“Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Reno sambil menunjuk Nadia.
Nadia terdiam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Reno menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Nanti bisa pulang sendiri kan?” tanya Reno.
“Bisalah. Emang loe mau nganter gue pulang?”
“Emang loe kira gue udah lupa sama rumah loe? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupain segala sesuatu tentang diri loe. Gue masih paham benar tentang diri loe. Malah perasaan gue masih sama kayak dulu.” jelas Reno sejelas-selasnya. Reno pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Loe ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat loe!” ancam Nadia. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala pusing, malah di kasih obrolan yang makin pusing.
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal loe tau, gue selalu cari gara-gara ama loe itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas loe nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa loe malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin loe berantem.” Sejenak Reno menanrik nafas.

“Loe mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
Hening sejenak diantara mereka berdua.
“Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Nadia sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Nadia, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapain. Dulu ia nolak Reno karena Nesya juga suka Reno. Tapi sekarang?
“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Rno berbicara tepat saat Nadia sudah berada di ambang pintu UKS.
Nadia terdiam tak sanggup berkata-kata. Di langkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Reno yang termenung sendiri.
***
Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Nesya belum datang. Nadia sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Nadia nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Reno selalu terbesit di benaknya. Apa benar Reno pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Reno mau pindah apa nggak, batin Nadia. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”
“Mikirin Reno maksud loe?” ucap Nesya tiba-tiba udah ada disamping Nadia.
“Nih hadiah dari pangeran loe.” Di lihatnya Nesya mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Nadia membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Nadia dan Reno saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.

Dear Nadia,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu loe nangis gara-gara di hukum sama kakak kelas. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. just kidding J. Loe dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga loe seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke loe gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat loe ga mau jadi pacar gue. I Love You…
                                                                                                                          Salam Sayang,

                                                                                                                       Reno Purwanto

“Kenapa loe nggak mau nerima dia? Gue tau loe suka Reno tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Nesya tersenyum.
“Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Reno. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.” Ujar Nesya menyakinkan Nadia.
“Thanks Sya. Loe emang sahabat terbaik gue.” ucap Nadia tulus.
“Tapi gue tetap pada prinsip gue.” Ucap Nadia yakin.
Nesya terlihat menerawang.

“Jujur, waktu gue tau Reno suka sama loe dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia enggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya.
“Dan lo harus janji sama gue kalo loe bakal jujur tentang persaan lo sama Reno. Janji?” lanjut Nesya sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Nadia menolak tetapi Nesya terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Nesya belum sepenuhnya melupakan Reno. Tapi Nadia juga tak ingin mengecewakan Nesya. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.
“Janji..” gumam Nadia lirih.

 Sumber: http://unosites.blogspot.com/2013/04/novel-cinta-berawal-dari-benci.html

Jumat, 03 April 2015

Novel Cinta -"HUJAN TERAKHIR BERSAMAMU"



بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


                            Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Dinda, begitu gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air matapun takkan terlihat.

Dinda berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, fikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karna Denis, si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Denis hanyalah pria biasa, hanya saja cinta membuat Denis terlihat tak biasa di mata Dinda. Mungkin Dinda melihat menggunakan mata hati. Mungkin.

Tak ada yang buruk dari mengenal Denis. Hanya saja Denis terlalu untuk Dinda. Terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar.. Nyaris sempurna. Dulu, Dinda tidak suka pada Denis, bahkan Dinda membencinya. Tapi sekarang? Ia menyukainya. Atau mencintainya. Mungkin.
“Din, kamu baik-baik saja?” Suara itu. Suara itu sudah tak asing lagi di telinga Dinda. Dan benar saja, ketika Dinda melihat siapa orang itu. Ternyata Denis.
“Aku? Aku baik-baik saja.” Jawab Dinda. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Perempuan. Bukankah itu salah satu keahliannya untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya?
Hujan Terakhir Bersamamu
Seperti biasa, Dinda duduk di samping Gisha. Gisha dulunya adalah gadis yang Denis sukai. Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan pandai bergaul, hampir tak ada celah pada dirinya. Tapi itu dulu, sampai Denis berkata kalau ia menyukai Dinda. Dinda mendengus geli ketika otaknya memutar memori antara Dia, Gisha dan Denis.

Waktu itu, hujan sangat lebat. Dinda dan Gisha menunggu hujan itu berhenti. Gisha sibuk mengamati hujan yang deras itu, tetapi Dinda justru menikmatinya. Aroma hujan, Dinda selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telinganya. Dinda menikmati itu sampai dia tahu bahwa Denis memberikan jaketnya untuk Gisha. Dinda benarbenar cemburu hingga dia lepas kendali.
“Din maaf.. Aku nggak mau semua berakhir sampai di sini?”

Dinda sempat bingung dengan isi pesan singkat Denis. Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata Denis. Tetapi akhirnya Dinda menjawab
“Apa yang berakhir? Nggak ada yang berakhir. Semuanya akan sama seperti dulu. Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change Denis, trust me.”
Tiba-tiba Dinda tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok Denis. Denis sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Dinda pura-pura tidak memperdulikannya. Dinda harus fokus. Ini demi mimpinya juga kebahagiaannya.

Jam tambahanpun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini, membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan. Dinda sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada satupun barangnya yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.
“Tidak. Hanya ingin melihat kamu. Dinda yang fokus benar-benar lain ya.”

Dinda mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar kata-kata Denis.
“Eh? Dinda tersenyum?”

Setelah mendengarnya, Dinda segera merubah raut wajahnya. Dinda menyesali senyumannya tadi. Harusnya ia tidak memberikan senyuman berharganya itu kepada Denis. Si pemberi harapan palsu.
“Dinda, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya”

Dinda segera keluar bersama Denis sebelum teman-temannya melihat. Ketika Denis mengajak Dinda untuk mengobrol di tempat teduh, Dinda menolaknya. Dinda beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air, dan lagipula Dinda suka hujan.
“Mau bicara apa?” tanya Dinda.
“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu nggak pernah mengirimiku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu?” jawab Denis yang kembali bertanya.
“Semuanya sudah berakhir”
“Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?”
“Kita.”

Beberapa menit kemudian Dinda meralat kata-katanya
“Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?”
“Kamu ini bicara apa Dinda. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita?”
“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukkannya.”
“Takdir tak pernah menunjukkan itu Din” jawab Denis tegas.
“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukankah itu cukup menunjukkan kalau kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku lembut. Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”

Hujan semakin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata Dinda yang ditahannya. Mungkin untuk terakhir kalinya, Dinda ingin Denis mengingat senyumnya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu menginginkan ini berakhir? Bukankah terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya. Bukan aku.”
“Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
“Sekali lagi, mungkin lidahmu terlalu kelu untuk mengatakan bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
“Din.. Dulu aku kan pernah bilang kalau aku nggak mau —” ucapan Denis terpotong karna Dinda segera menjawab
“Itu dulu Sekarang, tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”

Hening. Denis tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh Denis kalau Dinda akan mengatakan hal-hal seperti ini. Denis tak tahu apa yang membuat Dinda berubah seperti ini.
“Lagipula, kamu sekarang sudah punya pacar, kan?” kata Dinda yang sepertinya ingin menyindir Denis.
“Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.” sambung Dinda sambil memaksakan senyum pada wajahnya.
“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya.” Denis benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya tadi. Bahkan Dinda ikut terkekeh dengan jawaban Denis.
Tiba-tiba Dinda berhenti tertawa. Dia memperhatikan Denis yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Dinda melihat Denis tertawa karnanya dan bersamanya. Dinda menatap wajah Denis lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah Denis. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki Denis, maka biarkanlah Dinda memiliki kenangan tentang Denis. Tetapi Dinda tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara Dinda dan Denis.

Tanpa sadar Dinda menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi Denis. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Denis segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung itu. Punggung gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat sedih maupun senang. Denis tahu betapa rapuhnya gadis ini.

Dinda segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agar tak bergetar saat berbicara dengan Denis nantinya. Dinda membalikkan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat Denis. Denis membalas senyuman Dinda dengan tulus. Dinda tak tahu harus bagaimana atas sesuatu yang telah berakhir. Yang terbesit di benaknya adalah betapa bodohnya dia. Dinda juga tahu bahwa hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan Denis, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan itu sedikit demi sedikit akan menghilang.

Dinda beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Denis.
“Sepertinya aku harus pulang. Hujannya semakin deras. Dan kamu juga harus pulang.” kata Dinda.
“Aku harap setelah hujan ini akan ada pelangi. Pelangi yang menghubungkan aku dengan pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” sambungnya.
Dinda pergi meninggalkan Denis lebih dahulu. Dinda kini sadar bahwa tak selamanya pangeran baik untuknya. Dan hujan? Terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan yang Dinda miliki.

Sabtu, 31 Januari 2015

Novel Cinta "Kejamnya Cinta "


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


               Pada suatu hari di sebuah desa hidup seorang gadis dan seorang pria yang bernama Annisa dan Robbi. Perawakan Annisa sangat cantik dan Robbi sangat tampan. Suatu hari annisa sangat gundah gulana semenjak melihat si robbi, entah apa yang sedang ia fikirkan dalam benak hati ada rasa aneh yang berselimut di hatinya. Rasa ingin dekat dengan si robbi, rasa ingin memiliki.
Dan pada saat itu si annisa mencoba memberikan beribu perhatian kepadanya dan usahanya itu ternyata tidak sia-sia. Robbi paham akan perhatian yang selama ni annisa berikan kepadanya dan robbi menerima usahanya annisa dengan penuh rasa senang.
Pada suatu malam di bulan Ramadan tepatnya pukul 00.00 si robbi mengajak annisa utuk pergi ke suatu tempat untuk membicarakan suatu hal penting dan annisa pun menyetujuinya. Dan pada hari itu mereka berdua janjian di suatu tempat. Dan pada saat itu si robbi memegang tangan annisa pada saat itu annisa heran dengan apa yang dilakukan robbi padanya. Dan si robbi mengatakan suatu hal kepada annisa “annisa mau kah kamu menjadi pacarku?” annisa hanya bisa diam tak percaya dengan semua ini, dan pada saat itu robbi hanya bisa diam dan berharap atas jawaban apa yang akan diberikan annisa kepadanya. Dan pada saat itu annisa tersenyum kepada robbi dan annisa mengatakan bahwa dia mau menjadi pacarnya, sontak robbi senang tak karuan dan si robbi mengatakan sesuatu kepada annisa “aku punya sesuatu untukmu” dan annisa menjawab “apa?”.
Lalu robbi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan ternyata sepasang cincin yang berukirkan nama annisa dan nama robbi, dan saat itu annisa bahagia sekali lalu robbi memasangkan cincin itu di jari manis annisa (cincin yang bertuliskan nama robbi dipakai annisa begitupun sebaliknya) lalu annisa memakaikan cincin di jari manis robbi. Lalu mereka melewati malam dengan penuh canda tawa dan kemesraan. Lalu mereka pulang melewati jalan setapak dengan bergandengan tangan dan robbi mengucapkan kata manis untuk annisa.
“Jalan ini akan menjadi saksi bisu cinta kita berdua dan cincin ini akan menjadi lambang suci akan terjalinnya ikatan cinta kita, dan bintang pun tersenyum kepada kita karena tangan tuhan telah menyatukan cinta kita, aku harap cinta kita ini akan bertahan sampai di ujung pelaminan dan sampai akhir hayat kita berdua” dan annisa pun menjawab “Aku akan selalu mengingat kisah ini dan tidak pernah akan aku lupakan seumur hidupku engkaulah segalanya bagiku, engkaulah matahiriku tanpa engkau hidupku penuh dengan kegelapan tanpa adanya sinar cintamu.” Dan robbi pun mengecup manis dahi annisa dengan lembut.
Lalu pada keesokan harinya pas hari Lebaran mereka pergi ke masjid bersama, dan yang paling mengesankan lagi mereka pergi ke rumah orangtua robbi dan annisa berdu’aan. seperti galih dan ratna sangat romantis sekali.
Hari berganti hari bulan berganti bulan cinta mereka tidak goyah bagai batu karang diterpa kerasnya ombak. Lalu pada malam hari annisa pergi ke rumah robbi untuk memperlihatkan sesuatu kepada robbi ternyata yang diperlihatkan annisa adalah sebuah hadiah Cerdas cermat antar kabupaten dan annisa mendapat juara pertama, dan raut muka robbi tampak sangat bahagia sekali, lalu robbi pun menunjukan sesuatu kepada annisa berupa amplop. Dan ternyata isi surat dalom amplop adalah surat panggilan kerja di pelayaran daerah Bayuwangi Jawa timur. Sontak raut muka annisa tampak sedih dan gelisah lalu annisa berkata kepada robbi “apakah engkau akan pergi ke Bayuwangi untuk bekerja disana?”
Lalu robbi menjawab “iya aku akan pergi kesana, itu yang aku harapkan dari dulu dan orangtua ku pun menyuruhku untuk pergi kesana”
“lalu kamu berapa bulan disana?”
“aku belum tau persisnya kapan.”
Annisa mulai meneteskan air mata.
“akan aku lakukan apa yang engkau mau asal engkau tidak pergi dari sisiku.”
“maafkan aku aku akan tetap pergi mengejar cita-citaku.”
“apakah engkau iklas tuk meninggalkanku”
“jujur aku tidak iklas meninggalkan mu aku berada di posisi yang sangat sulit”
“apa kamu rela meninggalkan semua kenangan kita dulu?”
“akan aku simpan selalu kenangan indah kita tidak akan pernah aku lupakan kenangan kita dan cincin ini menjadi pengikat cinta kita, percayalah aku akan setia kepadamu.”
Lalu annisa memeluk robbi dengan penuh air mata berlinang di pipi annisa lalu robbi mengusap air mata annisa dengan tangannya yang lembut.
Lalu pada keesokan harinya robbi berpamitan kepada orangtuanya dan pergi ke rumah annisa berniat untuk bertemu untuk yang terakhir kalinya. Lalu robbi menemuai annisa dan sontak annisa langsung menangis di depan kekasihnya itu. Dan robbi berkata. “nisa, aku pamit dulu akan berangkat ke Bayuwangi tuk mengejar cita-citaku” annisa tidak bisa berkata apa-apa hanya air mata yang dapat ia perlihatkan kepada kekasihnya, lalu robbi menghapus air mata dengan selendang merah yang sudah ia persiapkan dari rumah untuk diberikan kepada annisa. Lalu robbi memeluk annisa dengan penuh kasih sayang dan mengucapkan kata “aku akan cepat pulang tuk meminta kepada orangtuamu agar merestui hubungan kita” lalu annisa terseyum sendu kepada robbi. Lalu annisa mengantarkan kekasihnya ke stasiun untuk melepas orang yang sangat ia cintai itu.
Di stasiun annisa tak henti-hentinya menangis lalu robbi pun memeluk annisa untuk menenangkan dia. Kereta yang ditunggu pun akhirnya datang juga dan robbi pun berpamitan kepada kekasihnya “selamat tinggal annisa jaga dirimu baik-baik, jika kamu kangen sama aku lihatlah cincin itu maka aku akan terlihat disitu dan menghiburmu”. lalu annisa berkata kepada robbi “hati-hati di jalan jaga dirimu baik-baik aku akan setia menunggu mu di sini.” lalu robbi pun masuk ke dalam kereta dan akhirnya kereta pun berangkat meninggal kan stasiun dan annisa. Annisa hanya mampu melambaikan tangan sambil mengangis.
Hari berganti hari bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun robbi pun tak kunjung pulang. Dan pada bulan desember robbi pun pulang dan langsung menemui annisa, betapa bahagianya annisa melihat kekasihnya pulang. annisa memeluk robbi dengan mesra. Dan mereka mengulang kenangan yang pernah ia berdua lewatkan bersama. Dan pada tanggal 7 desember robbi mengajak annisa untuk bertemu dan annisa pun menyanggupinya. Dan mereka pun bertemu di suatu tempat dan robbi membicarakan hal yang sangat penting kepada annisa.

“annisa maksudku mengajak mu ke tempat ini untuk mengutarakan maksudku”
“apa robbi”
“aku pulang ke sini karna disuruh orangtua ku”
“lha kenapa?”
“aku akan dijodohkan dengan gadis pilihan orangtuaku sebenarnya aku tidak mau dijodohkan aku maunya sama kamu”
Annisa dengan wajah sedih dan hampir menangis “lalu kamu menerima perjodohan itu?”
“aku tidak bisa menolak keinginan orangtuaku, aku berharap kamu mengerti akan semua ini, apakah kamu iklas melepasku?”
“jujur aku tidak rela jika kamu pergi dariku, kalau itu kemauan orangtua mu maka aku iklas merelakanmu pergi dari hidupku.”
Lalu handphone robbi berbunyi ada yang menelfon lalu robbi mengangkat telfon itu ternyata dari ayahnya robbi, robbi disuruh pulang karena gadis yang akan dijodohkan dengan dia sudah datang. Lalu robbi bergegas pulang dan berpamitan kepada annisa untuk pulang duluan.
Lalu annisa pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan kecewa, sepanjang malam annisa terus menangis karena memikirkan kekasihnya yang sangat ia cintai itu akan pergi selama-lamanya dari hidupnya.
Lalu pada tanggal 10 Desember adalah hari pernikahan robbi, annisa di rumah mendapat undungan pernikahan dari robbi. Perasaan dan hati annisa campur aduk melihat undangan pernikahan tersebut. Dan pada sore hari annisa memutuskan untuk datang ke pernikahannya robbi, sepanjang acara tidak henti-hentinya meneteskan air mata dan annisa menghapus air mata itu dengan selendang merah yang diberikan robbi pada saat ia masih pacaran dulu. Lalu annisa naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada robbi dan istrinya itu dengan mata merah ia beranikan menatap wajah robbi sambil tersenyum penuh kesedihan. Lalu annisa pulang dari pesta pernikahan robbi dengan perasaan sedih, disaat itu robbi menatap kepergian annisa dari pesta perkawinannya itu, dalam benak hati robbi tidak tega melihat annisa seperti itu, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terlanjur.
Dan annisa mencoba tegar menghadapi semua ujian dari ALLAH SWT dengan sabar. Dan kini semua kenangan semua foto indah dan selendang merah yang pernah di kasih robbi dalam hidupnya. Hanya senyuman yang dapat annisa tunjukan saat melihat foto dia bersama robbi dan akan dia simpan selalu semua kenangan indah yang pernah ia lewati bersama robbi dan selendang merah itu jadi saksi bisu berakhirnya cinta mereka.